Surat Luka
IBUKU kerap mengawasi bangunan indah yang tak
terlalu jauh dari rumah kami. Nanar. Bangunan megah itu terlihat jelas. Hanya
dibatasi oleh tanah setengah hektar tak berpenduduk yang ditumbuhi banyak pohon
besar. Ada
jati, beringin, akasia, juga alpukat. Disana, aku senang bermain hingga larut
malam, sendiri. Aku tak akan pulang sampai ibu berteriak memanggilku dan melebamkan
pahaku dengan cubitannya karena tak kenal waktu, lupa mandi dan belajar. Hal
itu berulang nyaris setiap hari, hingga usiaku 12 tahun dan aku harus
melanjutkan sekolah ke kota
dimana kakak pertama ibuku tinggal.
* * * *