Minggu, 15 Juli 2012


Surat Luka


IBUKU kerap mengawasi bangunan indah yang tak terlalu jauh dari rumah kami. Nanar. Bangunan megah itu terlihat jelas. Hanya dibatasi oleh tanah setengah hektar tak berpenduduk yang ditumbuhi banyak pohon besar. Ada jati, beringin, akasia, juga alpukat. Disana, aku senang bermain hingga larut malam, sendiri. Aku tak akan pulang sampai ibu berteriak memanggilku dan melebamkan pahaku dengan cubitannya karena tak kenal waktu, lupa mandi dan belajar. Hal itu berulang nyaris setiap hari, hingga usiaku 12 tahun dan aku harus melanjutkan sekolah ke kota dimana kakak pertama ibuku tinggal.

* * * *

Kau


Gecar         gentar        gemetar
Pada masa tak bertuan
Namun sejati

Di sebuah pagi kau singgahi tebing
Lantang teriakmu dalam bungkam
Lesat serupa pasat
Kau tanya pada gaung :
“Apa aku mati?”

Minggu, 01 Juli 2012


Paradigma Tipu


SEBAGAI satu kajian ilmu, korupsi, manipulasi, dan sekian derivatnya, masih menjadi kontroversi. Sebagai perkara moral dan ideologis, dengan dua pertanyaan ini, korupsi-manipulasi member kita ambiguitas, paradoks yang membuat gamang.

Pertama, atas pertanyaan: kekuasaan apa yang disalahgunakan dan siapa pemilik kekuasaan itu? Jika jawabannya adalah koruptor yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, sebagaimana korupsi dipahami per definisi, maka lingkaran setanlah yang terjadi. Inilah dunia yang mesti diterima.